Jumat, 05 Juli 2013

Radiasi Red Bull: 'Raksasa' Sepakbola dunia

Melihat sebuah klub sepakbola dimiliki oleh seorang pengusaha minyak dari Russia ataupun Timur Tengah mungkin sudah biasa bagi kita, di Manchester ataupun Melihat sebuah tim dikuasai oleh pejabat - pejabat bermasalah juga sudah sering terjadi di industri sepakbola modern, seperti yang sempat terjadi di Indonesia, Manchester dan Birmingham.

Tapi berapa dari mereka yang merupakan pengusaha minuman ? Seperti yang (sebenarnya) terjadi di berbagai belahan dunia saat ini. Ya, minuman energi hasil karya seorang peternak keturunan Thailand - China, Chaleo Yoovidhya & seorang sarjana marketing keturunan Austria - Kroatia, Dietrich Mateschitz, Red Bull atau lebih kita kenal sebagai Krating Daeng merupakan perusahaan yang memilih menginvestasikan uangnya kedalam keindahan sepakbola.




Red Bull memang sudah terkenal di dunia olahraga sejak tahun 1990, saat mereka kerap kali menjadi sponsor balap mobil internasional. Namun pada 6 April 2005, Dietrich Mateschitz memilih sepakbola menjadi investasi utamanya. Klub negara asalnya, Austria Salzburg pun menjadi klub Sepakbola bernama Red Bull pertama di dunia.  Moment yang dianggap pas oleh para supporter Salzburg setelah di musim sebelumnya, 2004/2005, klub mereka menjalani musim yang mengecewakan.

Diambil alih oleh Red Bull, klub kota Salzburg, Austria ini langsung kembali bersinar dengan menutup musim di peringkat kedua, dan bermain di kompetisi eropa semusim berikutnya, Red Bull Salzburg, saat itu ditangani Kurt Jara serta diperkuat pemain sekaliber, Andreas Ivanschitz.





Seakan kecanduan, Mateschitz melanjutkan petualangannya membangun klub sepakbola, 9 Maret 2006, ia kembali lebarkan sayap Red Bull di dunia olahraga. Kali ini, New York MetroStars yang ditunjuk menjadi klub resmi Red Bull. Mereka berganti nama menjadi New York Red Bull, yang santer terdengar di media Indonesia saat berhasil merekrut pemain legendaris, Thierry Henry.

Di musim pertamanya 'memiliki' New York, usaha Mateschitz meyakinkan publik Amerika Serikat langsung berhasil. Ia sering sengaja mengontak penyanyi ternama untuk menemani para supporter saat jeda dengan lagu - lagu hits, seperti yang dilakukan Shakira dan pencitraannya diimbangi dengan prestasi, NY Red Bulls, yang saat itu diperkuat Jozy Altidore berhasil menembus playoff MLS walaupun akhirnya kalah di semi-final.


Setahun berselang, Red Bull yang sudah memiliki New York sebagai basecamp sepakbola mereka, melanjutkan ambisinya ke daerah selatan, tepatnya Brazil. Berbeda dengan 2 klub sebelumnya yang mengalami re-branding, Red Bull memilih untuk membuat klub bernama RB Brazil di negeri leluhur sepakbola tersebut. Klub tersebut saat ini sedang bermain di Paulista A2 ( Divisi 2 regional Sao Paolo ). Setahun setelah membentuk tim sepakbola di Brazil, Red Bull membentuk RB Ghana di Afrika sebagai klub sepakbola ke-4 mereka.




Belum selesai sampai disitu, Red Bull kembali ke eropa dan membentuk klub amatir di Jerman, RB Leipzig ditemukan pada tahun 2009. Berbeda dengan klub asuhan Red Bull lainnya, Leipzig tidak membawa brand minuman energi tersebut pada nama klub mereka. Hal ini terkait kepemilikan klub Jerman yang 51% sahamnya harus dipegang oleh Asosiasi sepakbola Jerman. Red Bull hanya memiliki 49% diantaranya, tapi nama Rasen Ballsport yang disingkat RB layaknya Red Bull sudah cukup menjadi representasi mereka. Di tahun yang sama pula, Red Bull Brazil memenangkan Paulista Segunda.

RB Leipzig yang memulai karir di divisi 5 sepakbola Jerman, akhirnya akan menjadi klub yang bermain di liga proffesional musim depan setelah menjadi juara regional utara musim lalu, mereka menatap 3.Liga , divisi 3 Jerman musim mendatang.


Jika Red Bull berani menginvestasikan uang mereka dalam dunia Sepakbola dan membangkitkan prestasi klub tersebut.. Apa yang terjadi di Indonesia ?


dari @adrieedu untuk @Medio_Club official blog :)

Sepakbola[ng]

Sudah 5 hari sejak jendela transfer kembali dibuka, setiap klub bergegas menambah amunisi mereka untuk menyambut musim 2013/2014. Banyak dari mereka menyatakan ketertarikan kepada seorang pemain, namun sedikit dari mereka yang bergerak. Sebut saja, Arsenal yang setiap 6 bulan sekali, selalu dipenuhi rumor pembelian pemain, namun sedikit dari mereka yang benar - benar berlabuh di Emirates. Hari ini publik sepakbola dikejutkan dengan comeback Nicolas Anelka ke Premier League bersama West Bromwich Albion. The Baggies akan menjadi klub ke-11 pemuda PSG didikan Arsene Wenger tersebut. 


Selain Anelka, ada beberapa pemain yang juga bejiwa bertualang layaknya pemain kebangsaan Perancis tersebut, ini dia para bolang di dunia sepakbola:


1. Marcus Bent


Kakak dari striker Inggris, Darren Bent berposisi sama dengan adiknya. Keduanya pernah menjadi duet saat masih sama - sama bermain di Charlton Athletic. Yang berbeda adalah, Darren baru menginjakan kakinya di 5 klub berbeda. Sedangkan Marcus sudah membela 16 klub.

6 diantaranya sebagai pemain pinjaman, namun berarti ia memberi kontribusi lebih di 10 klub permanennya. Total 500 pertandingan bersama berbagai klub termasuk Mitra Kukar, Marcus hanya mengoleksi 97 gol. Torehan terbaiknya adalah saat bersama Sheffield United 20 gol dari 48 penampilan.

Marcus Bent juga pernah merumput bersama Wigan Athletic, Everton, dan Birmingham City.



2. Drewe Broughton


Striker yang memulai debutnya bersama Norwich City pada tahun 1996 ini telah membela 21 klub sepanjang karirnya. Termasuk MK Dons (07/08) & AFC Wimbledon (2011).

Melakukan debut professionalnya saat berusia 18 tahun, Broughton tidak pernah mendapatkan rumah sejatinya. Ia hanya bertahan di suatu klub maksimal 2 tahun lamanya. Saat berseragam Southend United, ia hanya mencetak 2 gol dari 44 penampilannya bersama klub. Jauh lebih produktif saat ia dipinjamkan Southend ke Rushden & Diamond pada tahun 2004. 21 penampilannya berbuah 6 gol dan meyakinkan R&D mempermanenkan jasanya pada tahun 2005. 10 gol ia cetak sebelum akhirnya kembali bertualang ke Chester City.



3. Lutz Pfannenstiel


Lutz Pfannenstiel merupakan kiper kebangsaan Jerman binaan FC Vilshofen, namun ia tidak pernah sekalipun membela tim senior akademinya. Karir proffesionalnya dimulai pada awal 90an dimana ia membela FC Badkotztig selama 2 tahun dan tampil sebanyak 68 pertandingan.

Namun tidak ada benua yang tidak pernah ia sambangi. Ia ke Asia, membela Penang FC (Malaysia) lalu ke Amerika membela klub Kanada, Vancouver Whitecaps. Ke Oceania bersama Otago United dari Selandia Baru hingga Afrika membela Orlando Pirates. Sekarang jiwa petualangnya digunakan Hoffenheim untuk mencari talenta - talenta muda di seluruh dunia.


3. Richard Pacquette

Bagi mereka yang gemar mengisi waktu kosongnya menyaksikan liga amatir Inggris mungkin tidak asing dengan nama yang satu ini. Pacquette sering kali menjadi kunci klub amatir dapat berlaga di League Two,

Striker didikan Queens Park Rangers ini sudah malang melintang ke 27 klub berbeda walaupun baru melakoni debut professional 13 tahun yang lalu bersama QPR. QPR mungkin bagian dari dirinya namun Havan & Waterlooville adalah tempat hatinya berlabuh, ia memberi 22 gol dari 66 pertandingan.



4. Trevor Benjamin


Trevor Benjamin merupakan Striker berdarah berkebangsaan Inggris - Jamaika. Pernah membela keduanya, namun hasilnya tetap diwarnai kegagalan. Ia hanya bermain sekali untuk Inggris U21 di tahun 2001 dan 2 kali untuk Jamaika di 2002.
Namanya bukanlah sesuatu yang asing bagi penggemar Premier League awal 2000an. Dari 29 klub yang menggunakan jasanya, ia sempat membela berbagai klub top flight saat itu, salah satunya Leicester City.



5. John Burridge

John Burridge, kiper yang satu ini merupakan yang pemain paling tua dan paling berpengalaman diantara semua yang sudah saya tampilkan. Kiper yang memulai karir professionalnya diusia 19 tahun ini telah berkelana keliling Inggris. Ia sempat berseregam klub - klub top Premier League saat itu, seperti Aston Villa, Southampton, dan Crystal Palace.

Burridge juga masuk ke dalam Hall of Fame Blackpool, setelah 134 penampilannya dalam 4 tahun bersama The Seasiders. Ia juga sempat bergabung dengan Newcastle United & Manchester City, namun tidak sekalipun melakoni laga.

John Burridge telah membela 30 klub sepanjang karirnya di dunia sepakbola.




Calon petualang : Arouna Kone



Satu nama lagi yang perlu diperhatikan "kestabilannya" membela klub. Dia adalah striker Pantai Gading, Arouna Kone. Hingga saat ini ia telah membela 9 klub, di berbagai kompetisi elite eropa. Seperti Belanda, Spanyol, Jerman, Inggris, dan Belgia.

Striker yang masih berstatus sebagai pemain dari klub juara FA 2013, Wigan Athletic mungkin akan kembali melanjutkan petualangannya di Inggris musim depan, menginggat pelatih yang membawanya ke tanah Ratu Elizabeth, hijrah ke Mersyside bersama Everton. Bukan tidak mungkin, Kone memilih rival Liverpool tersebut sebagai destinasi ke-10-nya.

Kita lihat saja, masih ada waktu sebelum Kone membulatkan keputasannya, tapi kenapa banyak dari para 'bolang' ini seorang striker ya ?




*dari @adrieedu untuk @Medio_Club official blog :)

Kamis, 04 Juli 2013

Lyon New Policy





Ketika Lyon mengambil 5 juta euro dari Monako akhir pekan lalu untuk Anthony Martial, striker 17 tahun yang telah menjadi bintang di tim muda mereka, ternyata kasus klasik terulang kembali dimana klub dengan kekayaan seperti suatu negara yang berdaulat mengambil pemain dari saingan yang membutuhkan uang.

Maksudnya, Lyon membutuhkan dana sebelum penutupan tahun keuangan 30 Juni untuk memuaskan pemilik saham klub. Namun, langkah yang tidak biasa dari klub mengeluarkan siaran pers untuk membenarkan penjualan kontroversial itu tidak hanya merupakan usaha langsung untuk menenangkan penggemar marah, tetapi juga menegaskan kembali "tekad untuk melanjutkan persaingan di seluruh pemain muda yang telah keluar dari akademi mereka".

Kebijakan baru telah dibuat oleh presiden klub Jean-Michel Aulas, yang mengambilalih OL yang sedang berada di Ligue 2 pada tahun 1987 atas rekomendasi Bernard Tapie. Setelah membangun kekayaan dengan memproduksi perangkat lunak untuk akuntansi bisnis, Aulas, 64 tahun, adalah seorang pria yang tahu memperhitungkan laba-rugi nya. Dia menyeimbangkan keuangan klub ', yang ia akui telah merugi sekitar 25 juta euro pada bulan Oktober 2012, sekarang akan seimbang dengan pengelolaan yang lebih hati-hati dan bakat dari akademi.

Keadaan ini kontras dengan dekade pertama milenium, ketika OL mendominasi sepakbola Perancis dengan memerintah otokratis di atasnya. Para pemain terbaik dari saingan mereka di Ligue 1 dibeli murah, seperti Michael Essien, Florent Malouda dan Eric Abidal, sebelum dijual dengan mahal, dengan bakat mereka dilengkapi dengan talenta Brasil seperti Juninho Pernambucano dan Cris.

Itu resep yang menyediakan tujuh gelar Prancis berturut-turut, dan meng-instal OL sebagai peserta abadi dari Perancis untuk Liga Champions.

Setiap kejayaan akan ada saatnya berakhir dan saatnya tiba saat tiga tahun masa jabatan pelatih Claude Puel.Pengeluaran yang tidak berhenti ( totalnya 70 juta euro ) di musim panas 2009 saja setelah penjualan Karim Benzema, salah satu bakat akademi yang sukses membangun dirinya dalam tim pertama selama satu dekade, sementara Yoann Gourcuff bergabung satu tahun kemudian untuk 22 juta euro harus menerima kegagalan.Performanya yang memudarnya di lapangan juga mencerminkan keadaan klub ketika krisis keuangan global menghantam persepakbolaan Perancis.



Titik balik krisis terjadi dengan kepergian Puel di musim panas 2011, dan pengangkatan mantan gelandang Arsenal Remi Garde, yang tidak memiliki pengalaman melatih sebelumnya tetapi telah berada di klub selama delapan tahun, terakhir sebagai direktur akademi pemuda. Siapa lagi sosok yang lebih baik untuk tahu siapa yang harus dibawa dari akademi klub untuk bermain dengan anak-anak besar selain dia.
Keluarnya banyak pemain, terutama Hugo Lloris,Cris, Kim Kallstrom dan Aly Cissokho tidak menunjukkan efek buruk.Garde dengan pemain mudanya dapat mengklaim tempat ketiga di akhir musim dan Coupe de France untuk kembali ke sepak bola Eropa .

Contoh utama dari arah mana klub ini sekarang dipimpin adalah Bafetimbi Gomis dan Clement Grenier, yang menemukan diri mereka akan dijual Aulas.Dengan anak-anak seperti Yassine Benzia dan Clinton Njie menunggu untuk membuat nama untuk dirinya sendiri di tim pertama seperti produk lain akademi muda, Alexandre Lacazette, lakukan musim lalu, dan Lisandro Lopez bersemangat untuk kembali ke peran disukai-Nya, Aulas ingin menggadaikan Gomis - pencetak gol terbanyak musim lalu, dengan satu tahun tersisa di kontraknya - dan mendapatkan laba atas 15 juta euro yang dibayarkannya ke Saint-Etienne pada tahun 2009.

Hebatnya, klub bahkan menggunakan segala cara sejauh untuk menyalahkan dijualnya Martial diakibatkan oleh Gomis seperti saat Jimmy Briand dijual ke Monaco di bursa transfer Januari yang lalu.

Grenier hampir dijual ke Nice musim panas lalu dalam upaya untuk mendorong Gourcuff merebut kembali performanya seperti yang ia tunjukkan di Bordeaux dan akhirnya memungkinkan OL untuk mengklaim mereka tidak overspent dalam mendatangkan dia. Sebaliknya, Grenier semakin bersinar musim lalu dan Gourcuff gagal kembali menunjukkan performanya musim lalu, dan bisa menemukan dirinya meninggalkan Stade de Gerland musim panas ini.

Sementara Aulas telah secara terbuka mengkritik Gomis melalui Twitter dan di tempat lain, ia telah sama-sama vokal dalam tekadnya untuk membujuk Grenier, yang performanya musim lalu membuatnya mendapatkan pengakuan internasional dan tawaran dari Arsenal, untuk memperpanjang kontraknya setelah 2014. Kapten Maxime Gonalons, yang bergabung dengan klub di umur 11 tahun, ikut dibujuk setelah Napoli menawarnya bulan lalu.

Terlepas dari ketidakaktifan Lyon dengan hanya merekrut Gael Danic dan Steed Malbranque selama rentang 2012-2013 serta mandeknya rencana pembangunan stadion baru mereka,harus diakui Lyon beruntung mempunyai seorang Aulas.

Kita dapat melihat betapa lihainya Aulas membela diri saat menjual pemain bintangnya ke klub lain,seperti bunyi tweet dia saat resmi menjual Martial kemarin,
"Jika memungkinkan kita untuk menjaga Clement, [Gonalons], Samuel [Umtiti], Alexandre, Gueida [Fofana], Yassine dan yang lain ... Anda harus jelas dan memilih," tweet dia, mengkhianati logika kepala batu nya , telah menjadi ciri khas dari kepresidenannya. "Saya berpikir bahwa saya telah menunjukkan dalam 26 tahun terakhir bahwa kesalahan yang langka dan berulang kali sukses. Aku akan berterima kasih kalian percaya padaku."

*@Obinhartono1 untuk blog @MEDIO_Club*

Selasa, 02 Juli 2013

Berusaha Hilangkan Dominasi Ajax

Penampilan menghibur Belanda di kompetisi Euro U-21 beberapa waktu lalu tidak lepas dari peran para pemain kompetisi domestik yang mendominasi squad Oranje. Hanya 4 pemain yang merumput di luar negeri kincir angin dari 23 pemain yang dipanggil oleh pelatih, Car Pot. Walaupun gagal melaju ke final kompetisi para pemain muda eropa tersebut, penampilan Georginio Wijnaldum, dan kawan - kawan tetap mendapat pujian dari berbagai pihak.



Wesley Sneijder, binaan Ajax yang mendunia



Tidak mengejutkan memang jika melihat rataan umur para pemain di Eredivisie, liga utama Belanda, adalah 23,1 tahun. Termuda di antara 10 liga terbesar dunia saat ini. Mereka mengalahkan Bundesliga (24,5), Turkey Super Lig (24,8) dan Ligue 1 (24,9). Selama ini jika membicarakankita Eredivisie, kita hanya disuguhi berita tentang Ajax Amsterdam, PSV, dan Feyenoord Rotterdam. Apalagi jika sedang membahas tentang pemain muda hasil binaan akademi, Ajax Amsterdam pasti menjadi yang terdepan. Kenyataannya, klub asal ibu kota tersebut bukanlah satu - satunya yang peduli akan pengembangan pemain muda di Belanda.


Saat Euro Under-21 kemarin, kita diperkenalkan kepada Marco van Ginkel, gelandang binaan asli klub Vitesse Arnhem yang saat ini menjadi incaran klub kaya raya asal Inggris, Chelsea. Ada pula Bram Nuytinck, binaan NEC yang saat ini membela klub Belgia, Anderlecht.

Tapi diantara kedelapan belas klub yang merumput di Eredivisie, tidak ada yang lebih "extreme" dibandingkan SC Heerenveen dalam urusan pembinaan & pemberian kesempatan kepada pemain muda. Klub binaan Marco van Basten ini memang belum menyumbang satupun pemainnya kedalam squad U-21 ataupun senior tapi mereka sempat memperkenalkan kita kepada Afonso Alves, John Dahl Tommasson hingga yang teranyar Alfreo Finbogason.



Alves, buat rekor untuk Eredivisie saat berseragam Heerenveen



Tepat sehari yang lalu, 1 Juli 2013, jendela transfer kompetisi eropa kembali dibuka, dan dari sekian banyaknya klub yang menggelontorkan uang demi membeli amunisi baru, SC Heerenveen malah menjual dua pemain utamanya musim lalu, defender, Jeffrey Gouwelleuw dan gelandang serang, Filip Djuricic. Jeffrey Gouwelleuw dilepas ke AZ Alkmaar dengan harga 1.5 juta Euro setelah bermain 30 kali dan mencetak 1 gol untuk Heerenveen musim lalu. Sedangkan Duricic, dilego ke Benfica dengan banderol 6 juta Euro. Djuricic telah menyumbang 7 gol dalam 32 penampilannya di liga musim lalu, dia juga dijuluki sebagai Johan Cruijff dari Balkan.


SC Heerenveen mendapatkan suntikan dana sebesar, 7.5 juta Euro dengan penjualan kedua pemain tersebut, namun sebagai gantinya van Basten hanya membeli Yanic Wildschut dari VVV Venlo & Magnus Wolff Eikrem, dengan total pengeluaran 1.9 juta Euro. Sisanya ?



Dapatkan 2 talenta hanya dengan uang yang kurang dari 2 juta Euro



Klub yang juga pernah dihuni, Roy van Nistelrooy & Klaas-Jan Huntelaar ini memilih untuk mempromosikan 7 pemain akademi ( 2 diantaranya dari U-19 ) dan memboyong kiper binaan Ajax secara cuma - cuma. Klub yang musim lalu mengakhiri musim di peringkat ke-8 klasemen, zona play-off Europa League ( kalah di semi-final ) sepertinya menatap kompetisi 2013 / 14 dengan percaya diri tinggi, mengandalkan pasukan mudanya. Marco van Basten hanya memiliki 4 pemain berusia diatas 25 tahun hingga saat ini.


Penampilan apik selama kompetisi bergulir, kembali finish di 8 besar dan bukan tidak mungkin SC Heerenveen menghapus dominasi Ajax dalam pembinaan & mengirimkan dutanya di tubuh tim nasional Belanda.

*dari @adrieedu untuk @Medio_Club official blog :)

Rabu, 26 Juni 2013

Reformasi di Sunderland

Setelah semalam Simon Mignolet resmi pindah ke Liverpool,mungkin rasanya hal ini menimbulkan perasaan kecewa yang sama bagi pendukung Sunderland saat Jordan Henderson pindah kesana dua tahun yang lalu.

Mungkin pendukung Sunderland sekarang marah,tetapi didalam hati mereka muncul rasa terimakasih padanya karena performanya musim lalu.Penyelamatan yang dia lakukan adalah penentu saat Sunderland berjuang untuk tetap hidup di Premier League dan tidak terdegradasi ke Championship.

 


Dengan kepergian Mignolet,sebenarnya Sunderland sudah punya penggantinya yaitu Kieran Westwood.Kiper Irlandia berumur 24 tahun memiliki skill yang cukup mumpuni sehingga sering masuk timnasnya.Pilihan tepat bagi Paolo Di Canio tanpa harus membeli kiper baru.

Selain Mignolet,Sunderland juga bersiap-siap kehilangan Stephan Sessegnon.Pengatur serangan asal Benin sedang didekati klub-klub Perancis dan China.Pemain berumur 29 tahun ini juga merupakan sosok penting di posisi penyerang setelah Asamoah Gyan dan Darren Bent cabut dari Stadium of Light.

Belum ada tanda-tanda Sunderland akan merekrut pemain dengan kemampuan seperti Sessegnon . Menonton Sunderland sama sekali sudah cukup buruk musim lalu,bayangkan apa yang terjadi tanpa dia. 
Banyak di antara para pendukung Sunderland yang tetap enggan untuk memaafkan siapa pun yang bertanggung jawab - Steve Bruce, Niall Quinn sebagai ketua, Ellis Short sebagai pemilik atau kombinasi dari ketiganya - untuk apa Bruce disebut "berjudi" Darren Bent dibiarkan pindah tanpa pengganti di transfer bulan Januari 2011 . 
Danny Welbeck, pinjaman dari Manchester United, cedera dan Gyan telah gagal meyakinkan siapapun bahwa ia akan menjadi pencetak gol yang produktif. Penjualan Bent diikuti oleh penurunan yang mengkhawatirkan hingga akhirnya Bruce dipecat,digantikan O'Neill yang akhirnya dipecat juga.

Lee Cattermole, korban lain keinginan PDC untuk membuat skuad sendiri, menawarkan percikan cukup yang salah. 
Ada kemampuan yang istimewa terkubur di suatu tempat dalam dirinya tetapi perjuangan untuk melarikan diri dari kungkungan, dilemahkan oleh ketidakdisiplinan sembrono dan cedera konstan, tampaknya terlalu besar. Pengagum Cattermole berpendapat bahwa Sunderland selalu menunjukkan kemampuan yang lebih baik ketika dia berada di tim, tapi itu akan sulit untuk meneteskan air mata 
 atas penjualan pemain yang menghabiskan lebih banyak waktu ditangguhkan atau di bangku fisio.
 




Paolo Di Canio Sudah menekankan dan menawarkan pendukung jaminan yang diperlukan "Ada sejumlah besar pekerjaan yang terjadi di balik layar.Tujuan kami adalah untuk membangun skuad yang kompetitif untuk musim baru dan kesepakatan ini akan memberikan kami kemampuan lebih lanjut untuk memperkuat Sunderland"

Kita hanya bisa menunggu reformasi di Sunderland dapat sukses atau tidak saat kompetisi sudah dimulai...

*@Obinhartono1 at Twitter
for official blog @MEDIO_Club*

Jumat, 14 Juni 2013

Tahiti : kemenangan bagi sepak bola

Jika Anda tidak kenal "Cool Runnings," "Seabiscuit" atau Ewoks dan gatal untuk menentukan minat mendekati Piala Konfederasi, memungkinkan kita untuk memperkenalkan Anda ke tim baru favorit Anda: Tahiti. Sebuah skuad jelas berasal dari pulau yang paling padat penduduknya di Polinesia Perancis, daerah yang penduduknya hanya 277.000 orang. 
 File:Tahiti FA.svg

Anda mungkin akrab dengan wilayah ini sebagai produsen mutiara hitam atau sebagai tempat dimana seniman Impresionis Paul Gauguin pindah kesini mencari inspirasi artistik. Namun, sampai Toa Aito (Iron Warriors) memenuhi syarat sebagai salah satu dari delapan tim yang bersaing untuk Piala Konfederasi 2013, itu bukan daerah yang terkenal untuk sepak bola nya. Tahiti saat ini menduduki peringkat 138 di dunia, terjepit diantara Suriah dan Afghanistan, dan meskipun setiap turnamen memiliki peringkat luar nya - contohnya Equatorial Guinea di Piala Dunia Wanita 2011 - tantangan bagi pulau ini sangat luar biasa.  
 
Mereka diundi untuk berada di Grup B bersama juara Piala Afrika Nigeria ,pemenang Piala Dunia dan Euro Spanyol, dan pemegang Copa America Uruguay. Pelatih Eddy Etaeta memiliki beberapa ilusi tentang apa yang mungkin. Saya memintanya untuk menjelaskan skenario terbaiknya untuk tim di turnamen dan dia mengakui, "ambisi realistis kami adalah untuk pergi melalui satu babak 45 menit tanpa kebobolan." 
Untuk Etaeta yang berumur 43 tahun dan timnya, lolos dari kualifikasi dihitung sebagai kemenangan dalam dirinya sendiri. Tahiti mewakili Konfederasi Sepak Bola Oseania,bagian tubuh terkecil dan terlemah di organisasi FIFA, menggabungkan negara terpencil seperti American Samoa, Kepulauan Cook, Kaledonia Baru, Tonga dan Vanuatu. Asosiasi yang sangat kecil hingga Australia meninggalkannya pada tahun 2006 untuk mencari tantangan kompetitif yang lebih besar di Asia.
 

Tahitians memenuhi syarat untuk Brasil ke Juni lalu, menemukan form mereka pada saat yang tepat untuk memenangkan Piala Konfederasi Sepak Bola Oseania. Raksasa lokal Selandia Baru kalah di semifinal, diakibatkan oleh cuaca kurang bersahabat di Kepulauan Solomon dan kemampuan mencetak gol mereka yang kurang. Tahitians mengambil keuntungan penuh. Tim Etaeta yang menghancurkan Samoa 10-1, membentangkan rentetan tak terkalahkan lima pertandingan untuk kemenangan berpuncak pada kemenangan 1-0 di melawan Kaledonia Baru yang membuat Iron Warriors tim pertama selain Australia atau Selandia Baru untuk mewakili wilayah tersebut.
(Highligths pertandingan final piala OFC   disini   dimana anda bisa melihat sukacita Tahiti )
 
Kemenangan Piala OFC adalah prestasi yang luar biasa untuk sebuah tim yang eksklusif amatir, menggambar bakat dari 146 klub dan 11.201 pemain yang terdaftar di pulau itu, banyak dari mereka adalah spesialis dalam sepak bola pantai. Inti dari skuad berfungsi sebagai bek, gelandang dan striker hanya paruh waktu, menghabiskan sisa kehidupan profesional mereka sebagai pekerja kantor, buruh, guru sekolah dan salesman.


 

Sejak kualifikasi, salah satu profesional, Marama Vahirua, striker 33 tahun yang menghabiskan musim lalu dengan Panthrakikos telah bergabung skuad. Para pekerja harian yang mencintainya karena perayaan gol nya, di mana ia meniru Tahitian canoer, jatuh ke satu lutut sambil meniru dua stroke dayung. Vahirua memperkuat skuad yang memiliki empat anggota satu keluarga - Tehaus - kuartet ampuh dari tiga bersaudara dan satu sepupu yang bertanggung jawab untuk sembilan dari 10 gol yang menghancurkan Samoa kembali pada bulan Juni. Kiper Mickael Roche, yang bermain untuk tim cadangan Monaco pada 2000-01, harus menjadi orang tersibuk di lapangan, dan akan berharap untuk melakukan lebih dari hanya mengambil bola keluar dari belakang jaring.

Sementara Etaeta mengakui "perbedaan antara [lawan kami] dan kami terlalu besar bagi kami untuk memenangkan pertandingan," ia berharap Piala Konfederasi akan menjadi sebuah karya untuk menarik perhatian pada bakat individu pemain, terutama Tehau bersaudara, dan memungkinkan mereka untuk membuat lompatan ke dalam jajaran profesional. Namun, timnya telah mengalami kemerosotan dalam sejak memenangkan trofi, mengalami sengatan kekalahan dari Kaledonia Baru dan Selandia Baru di kualifikasi Piala Dunia.


Pelatih sadar pemainnya mungkin mengalami kejutan budaya di Brazil, pencocokan melawan bintang kelas dunia dari La Liga dan Liga Premier yang telah mereka lihat sebelumnya hanya di televisi. "Para pemain harus memberikan maksimal," katanya. "Aku akan memberitahu mereka untuk tetap fokus selama 90 menit dalam stadion besar tetapi mereka juga harus bersenang-senang dan menikmati diri mereka sendiri."


Saya bertanya pada Etaeta skenario apa mimpinya adalah sebagai pemainnya tiba di Brasil.
"Mimpi kami paling liar sebagai sebuah tim adalah untuk mencetak gol," jawabnya. "Jika melawan Spanyol, itu akan menjadi lebih luar biasa!" Kejujurannya adalah sebagai menyegarkan seperti pendekatan timnya , sebuah kemunduran ke 1930-an ketika semiprofessionals adalah kehadiran umum pada turnamen sepakbola global.


Sebagai skuad mempersiapkan untuk berbaris melawan superstar jutawan seperti Xavi dan Iniesta di stadion Maracana dengan 77.000 penggemar , saya bertanya pelatih pesan apa dia ingin tawarkan pecinta sepak bola Amerika.


"Kami di sini untuk mewakili jutaan pemain sepak bola amatir dan penggemar," katanya. "Saya harap kami akan memberikan citra yang baik dari sepak bola amatir." Satu hal yang pasti. Setiap umpan dari pemain Iron Warriors berhasil diselipkan di belakang pertahanan lawan,mereka akan merasa seperti kemenangan bagi orang biasa.


*@Obinhartono1 at Twitter
for @MEDIO_Club official blog*

*diadaptasi dari artikel  "Tahiti a triumph for football's everyman"
 http://espnfc.com/blog/_/name/relegationzone/id/908?cc=4716  *

Kamis, 13 Juni 2013

Magic hand of Zdenek Zeman

Kenangan akan debutnya di Piala Dunia 1990 untuk pemain Italia Salvatore 'Toto' Schillaci masih segar bagi banyak orang, meskipun lebih dari 23 tahun telah berlalu sejak ia turun ke lapangan di Stadion Olimpico dimana pertandingan Italia melawan Austria yang tanpa gol akan selesai. Dua menit kemudian, ia mencetak gol untuk membawa tuan rumah menjadi pemenang dan kemudian menjadi top skorer turnamen. Sebuah cerita yang menakjubkan !
Salvatore 'Toto' Schillaci celebrates one of his six goals at Italia 90

Sebagian besar tidak mengenal dia di luar Italia sebelum mencapai prestasi itu, Toto juga benar-benar anonim di negaranya sendiri hanya dua tahun sebelum Piala Dunia. Ketika musim 1988-1989 dimulai, dia hanyalah striker bawah rata-rata di Serie B, menghabiskan seluruh karirnya di Messina . Pada usia 23, masa depannya tampaknya tidak akan menjanjikan. Kemudian Zdenek Zeman datang, dan tiba-tiba Schillaci memahami potensi nyata yang dia punya dan mulai memenuhinya. Toto tidak bisa mengubah aksen Sisilia yang dia punya, tapi dalam aspek sepakbola transformasi itu nyata. Dia mengantongi 23 gol musim itu, separuh dari itu total gol Messina di liga yang sangat defensif-minded, dan Juventus bergerak cepat untuk mengontraknya.
Sisanya adalah sejarah - enam gol Toto membantu Azzurri finis ketiga di kandang - dan seluruh Italia harus berterima kasih kepada Zeman untuk hadiah nya, mungkin yang pertama oleh sosok karismatik spesialis Ceko-Italia, tapi masih ada yang lain.
Banyak yang telah ditulis tentang taktik menyerangnya dan metode pelatihan yang kaku, dengan penekanan pada persiapan fisik melelahkan, tapi bakat terbaik Zeman adalah bercak bakat dalam pemainnya. Anda dapat melihat hasil karyanya bulan ini juga, karena tidak kurang dari empat bintang dari Devis Mangia Azzurrini yang merupakan semi-finalis di Eropa U-21 Championship di Israel adalah berkat berkembang yang ditemukan si jenius perokok ini.
Lorenzo Insigne, pencetak gol kemenangan melawan Inggris, yang diharapkan akan fit untuk pertandingan semifinal melawan Belanda pada hari Sabtu, setelah mengalami cedera di laga versus tuan rumah pekan lalu, berutang seluruh karirnya untuk Zeman.
Pada usia 18, ia tidak mendapat apa-apa yang diinginkan selama masa pinjaman dari Napoli di divisi Cavese ketiga. Pada umur 19 tahun, Partenopei meminjamkannya ke klub Foggia yang dilatih Zeman, kemudian juga di Lega Pro Prima Divisione, dan tiba-tiba Insigne meledak ke dalam kehidupan, mencetak 19 gol dan menyiapkan banyak sekali peluang untuk rekan satu timnya. Salah satu rekan, kebetulan, adalah Marco Sau, yang menjaringkan bola 20 kali dan tidak pernah berhenti mencetak gol, mendapatkan debut tim nasional setelah musim yang luar biasa untuk Cagliari musim lalu untuk menambah daftar panjang murid dari Zeman.
Pelatih kelahiran Cekoslovakia bergabung dengan Pescara pada musim panas 2011. Insigne gembira bergabung dengannya di sana dan bekerja sama dengan Marco Verratti, seorang pemuda lokal dan gaya bermainnya mirip Pirlo , dan Ciro Immobile, penyerang yang dipinjam dari Juventus. Tak satu pun dari mereka yang dikenal para fans Italia sebelumnya, tapi trio ini melanjutkan untuk memproduksi beberapa aksi yang terbaik dari sepakbola Serie B yang pernah disaksikan. Pescara promosi dari Serie B sebagai juara setelah mencetak 90 gol di 42 pertandingan yang menakjubkan.
Insigne tak terbendung, menjaringkan bola 18 kali dan membuat assist dalam jumlah yang sama. Immobile dinobatkan top skorer liga dengan 28 gol atas namanya - tidak buruk untuk seorang pria yang mencetak gol hanya dua kali dalam musim sebelumnya. Verratti adalah begitu luar biasa bahwa Juventus dan Paris Saint Germain berjuang untuk tanda tangan untuk waktu yang lama, sebelum anak itu memilih untuk bekerja dengan Carlo Ancelotti di Paris bukannya belajar di sisi bintang yang tempatnya di tim nasional dia seharusnya warisi , Andrea Pirlo.
Zeman mengubah mereka menjadi bintang yang sah. Ketiganya kini menjadi bagian dari skuad Italia U-21, sementara Verratti dan Insigne juga sudah membuat debut mereka untuk tim senior Cesare Prandelli. Harus dikatakan, meskipun, bahwa tidak satupun dari mereka berhasil menghasilkan jenis bentuk yang mereka alami di bawah bimbingan Zeman tahun lalu.

Italy Under-21 forward Lorenzo Insigni with his mentor Zdenek Zeman 

Cukup tragis, pelatih veteran tidak pernah diberi dukungan penuh oleh dewan Giallorossi dan dipecat pada bulan Februari, tapi sampai saat itu dia masih mampu untuk memoles berlian kasar lain ke tim nasional Alessandro Florenzi. Pemain tengah Roman kelahiran terkesan Zeman cukup selama masa pinjamannya di Serie B Crotone selama 2011/12, sehingga pelatih segera meminta pemain akan kembali ke klub dan dipromosikan anak langsung ke starting line-up, sebagian dengan mengorbankan Daniele De Rossi.


Florenzi mencetak gol di pertandingan kedua bagi Roma, kemenangan 3-1 atas Inter di San Siro, dan tak pernah kembali. Pada bulan November, ia sudah mendapatkan panggilan pertamanya dari Prandelli. Wujudnya menderita sedikit setelah Zeman dipecat, dan ada sedikit keraguan Florenzi pernah ingin berpisah dari mentornya, tapi masa depan masih terlihat sangat cerah baginya.
Bila melihat ke belakang, jumlah bintang Italia dibesarkan oleh Zeman sensasional. Selama pertama, sangat terkenal, masa kepelatihan di Foggia pada awal 90-an, ia membuat Beppe Signori menjadi salah satu pencetak gol alami terbaik di Eropa, dan striker berambut merah menduduki puncak daftar pencetak gol terbanyak Serie A tiga kali saat di Lazio, sebagai serta memainkan bagian penting dalam Italia dibawah Arrigo Sacchi yang mencapai final Piala Dunia 1994.
Musim panas itu, Signori senang bertemu kembali dengan Zeman di Stadio Olimpico, di mana Republik-Italia dipandu seorang anak lokal dengan nama Alessandro Nesta saat ia mengambil langkah pertamanya di liga. Setelah pindah ke Roma pada tahun 1997, Zeman membantu Francesco Totti untuk menjadi superstar. Er Pupone mencetak 13 gol Serie A pertamanya . Dalam Zeman, ia cocok jumlah ini dalam satu musim, dan tak lama kemudian menerima debut pertamanya untuk Italia.
Marco Delvecchio tidak pernah memiliki musim dengan lebih dari 10 gol sampai ia bertemu Zeman, kemudian terjaring 18 kali tahun 1998/99, juga mendapatkan panggilan ke tim nasional, di mana golnya melawan Perancis ssaat final Euro 2000 hampir membuat Italia menjadi pemenang.
Ketika bekerja dengan klub rendah selama dekade terakhir, Zeman terus mempengaruhi bakat-bakat muda. gelandang AC Milan dan Italia Antonio Nocerino, misalnya, menyatakan bahwa pelatih ini memainkan bagian yang sangat penting dalam pengembangan karirnya ketika mereka bekerja bersama di Avellino. Daftar ini bisa terus dan terus, terutama jika kita menyebutkan pemain non-Italia yang mengambil keuntungan dari nasihat Zeman, Mirko Vucinic seperti di Lecce.
Zeman kini berumur 66 tahun dan keluar dari pekerjaan setelah negosiasi mengenai kemungkinan kembali ke Pescara gagal. Pengetahuan yang terbuang, dan sudah saatnya bagi seseorang untuk mengambil dia,berjudi sebagai pelatih, yang masa jabatan akan selalu menyertakan gaya menyerang bergerak yang menakjubkan dan tujuan aneh kebobolan di ujung lain.
Dan itu bukan hanya penggemar yang membutuhkan hiburan yang tim Zeman selalu hasilkan. Sepak bola Italia membutuhkan dia untuk menggali bakat lain seperti Schillaci, Signori, Totti atau Verratti. Ketika melihat Azzurrini bersenang-senang di Euro-U21, berpikirlah tentang Zeman. Kontribusinya telah besar, dan jika Italia memenangkan gelar, itu sebagian akan menjadi milik salah satu pelatih yang paling penting di zamannya.


*@Obinhartono1 at Twitter
for @MEDIO_Club official blog*